Sepanjang Tahun Ini Nilai Tukar Rupiah Lesu

waktu baca 3 menit

Tahun Ini Rupiah Lesu, ekonomi sulawesitoday Sepanjang tahun ini, nilai tkar Rupiah kondisi mengalami lesu, bahkan terjun ke tingkat Rp15.540 per dolar AS di perdagangan pasar spot pada Kamis 20 Oktober 2022. Status rupiah ini jadi yang paling lemah semenjak bulan April tahun 2020 silam.

“Rupiah dalam beberapa bulan akhir menurun lumayan cepat, tetapi searah dengan perkiraan pengetatan moneter dan inflasi yang lebih rendah dibanding tahun ini, karena itu penekanan pada rupiah dan capital outflow yang terkait dengan nilai tukar rupiah semakin lebih rendah tahun depan,” ucap Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE), Mohammad Faisal, pada acara CORE Harnessing Resilience against Global Downturn, Rabu 23 November 2022.

Selanjutnya, Faisal menyentuh masalah persediaan devisa yang dapat dipakai untuk melawan pelemahan nilai rupiah. Faisal memandang, persediaan devisa Indonesia masih aman dan mampu mengongkosi sekitaran enam bulan impor.

Di acara yang serupa, Ekonom CORE Etikah Karyani menerangkan, masalah nasib Rupiah pada tahun 2023 mendatang. Pihaknya hanya dapat mengamini jika rupiah tetap akan mengalami penekanan, tetapi tetap kelihatan lumayan baik dibandingkan Negara di kawasan.

Di sisi lain, dolar AS masih kuat karena didorong oleh pengetatan peraturan moneter agresif dan penarikan modal dari berbagai Negara ke AS.

“Ekonomi global muram, tetapi Indonesia bertahan dengan rekondisi ekonominya dan perbankan stabil dan, sehat karena pasar konsumsi masih tinggi, stimulan dari Indonesia Pemerintah Indonesia, dan kerjasama Kelompok Usaha Bank (KUB),” kata Etikah.

Sebelumnya, beberapa analis diantaranya Ariston Tjendra memprediksi rupiah dapat semakin tertekan sampai akhir tahun. Hingga kesempatan pelemahan rupiah masih terbuka. Bahkan juga, mengaminkan kekuatan rupiah menembus Rp16 ribu per dolar AS.

Faktor-faktor yang mengakibatkan pelemahan ini ialah suku bunga referensi bank sentra AS The Federasi Reserves (The Fed) dan Bank Indonesia (BI) yang naik, hingga pelaku pasar mengubah beberapa portofolio ke asset dolar AS.

Disamping itu, pasar mulai memperhitungkan resesi karena suku bunga dan inflasi  masih tinggi hingga beberapa modal masuk ke asset aman dolar AS.

Sedangkan perkiraan analis DCFX Futures, Lukman Leong mengaminkan pelemahan rupiah pada dolar AS, khususnya karena peraturan peningkatan suku bunga agresif dari The Fed.

“Untuk akhir tahun, kemungkinan masih di bawah Rp16 ribu,” sebut Lukman.

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengeklaim depresiasi mata uang garuda masih lebih bagus dibanding bath Thailand, ringgit Malaysia, dan rupee India.

“Relatif Lebih bagus dibanding dengan depresiasi mata uang sebesar Negara berkembang yang lain seperti India 10,42 persen, Malaysia 11,75 persen, dan Thailand 12,55 persen,” tandasnya.

Perry menjelaskan depresiasi ini bersamaan dengan kuatnya dolar AS dan bertambahnya ketidakjelasan pasar keuangan global karena pengetatan peraturan moneter yang lebih agresif di beberapa negara.

Maka dari itu, Perry Warjiyo sampaikan pihaknya terus akan menyimak suplai valas dan perkuat peraturan stabilisasi serupa, sesuai bekerjanya proses pasar dan esensialnya. Disamping itu, peraturan stabilisasi nilai ganti rupiah akan ditujukan untuk jaga tingkat imported inflation, dan kestabilan makro ekonomi lokal. (WS)

Selain Berita Sepanjang Tahun Ini Nilai Tukar Rupiah Lesu, baca juga:Aset Dijaminkan Pemerintah Rp1.106 Triliun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *