Polisi Bongkar Pabrik Produksi Sampo Palsu Beromzet Ratusan Juta di Tangerang

waktu baca 3 menit
Foto: barang bukti pembuatan sampo palsu di Tangerang. Polisi Bongkar Pabrik Produksi Sampo Palsu Beromzet Ratusan Juta di Tangerang.

Kriminal, sulawesitoday — Polisi menggerebek suatu bangunan yang dipakai selaku pabrik produksi sampo palsu bermacam merk terkenal di area Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang. Dalam perkara itu, satu orang yang ialah owner dari bangunan itu diresmikan selaku tersangka.

Kabid Humas Polda Banten Kombes Angket Shinto Silitonga menerangkan, penyergapan bangunan pabrik produksi sampo palsu itu pada Selasa 28 Desember 2021.

Penyergapan dilakukan bersumber pada data yang didapat dari warga hal terdapatnya penemuan sampo ilegal di salah satu gerai di Kecamatan Mauk, setelah itu dikembangkan ke bangunan pembuatan di Kecamatan Pakuhaji.

Baca juga: Kerugian Kasus Pinjol Ilegal Tahun Ini Sentuh 217 Miliar Rupiah

“Pemeriksa sukses temui bangunan rumah produksinya, ada mesin pembuatan, materi dasar serta bungkusan ilegal di bangunan itu,” ucap Shinto dalam keterangannya, Minggu, 2 Januari 2021.

Shinto mengatakan, dalam susunan usaha penggeledahan pabrik produksi sampo palsu, regu pemeriksa mendapatkan bermacam merk sampo populer. Di antara lain Gatsby, Clear, Head and Shoulder, Dove, serta Sunsilk.

“Merk ini kerap ditemui di gerai dan kios kecil. Dengan cara kasat mata susah buat dibedakan mana yang ilegal serta asli,” terangnya.

Tetapi, Kasubdit Indag Ditreskrimsus Polda Banten Kompol Condro Sasongko berkata, sampo ilegal yang dibuat itu mempunyai perbandingan yang dapat dibandingkan bila diawasi.

“Rekatan antar sachet sedang celah, warna larutan lebih terang komposisinya tidak pekat, dan wanginya lebih menusuk. Apabila dipakai bisa menyebabkan iritasi kulit,” jelasnya.

Condro mengantarkan, polisi mendapatkan kenyataan kalau owner bangunan itu tidak mempunyai keabsahan serta perizinan berusaha, apalagi tidak mempunyai kontrak kegiatan serupa dengan industri owner merk, ialah PT Unilever.

Ada pula dalam melaksanakan usahanya, omzet yang didapat dapat menggapai ratusan juta rupiah per bulannya, dan bisa membayar pegawai dengan imbalan yang besar.

“ Upaya ilegal ini berpindah- pindah, telah tiga tahun bekerja dengan omzet Rp 200 juta per bulan. Alhasil tidak bingung apabila pengelola bangunan sanggup membayar pegawai dengan Rp 15 juta per bulan,” ucapnya.

Dalam pengembangannya, Condro berkata kalau produk sampo ilegal itu sudah diimpor berbentuk rol edisi sachet dari Cina, alhasil kemasannya jadi nampak semacam asli.

Dalam pengungkapan permasalahan itu, polisi mengambil jutaan sachet sampo serta gel rambut ilegal dan perlengkapan penciptaan materi dasar semacam soda api, alkohol 96 persen, perekat, perona santapan, dan materi pengawet.

Polisi memutuskan owner bangunan, ialah HL( 28) selaku tersangka perbuatan kejahatan kesehatan serta proteksi pelanggan dalam perkara itu. HL dijerat Pasal 197 Jo Pasal 106 bagian( 1) serta bagian( 2) UU No 36 Tahun 2009 mengenai Kesehatan, begitu juga sudah diganti dengan Pasal 60 UU No 11 Tahun 2020 mengenai Cipta Kerja. Bahaya ganjaran bui sangat lama 15 tahun serta kompensasi sangat banyak Rp 1 miliyar.

Pemeriksa pula mempraktikkan dugaan berlapis dengan Pasal 62 bagian( 1) Jo Pasal 8

bagian( 1) graf( f) ataupun Artikel 9 bagian( 1) graf d Hukum No 8 Tahun 1999 mengenai Proteksi Pelanggan dengan bahaya kejahatan bui paling lama 5 tahun ataupun kompensasi paling banyak 2 Miliyar. (**)

Baca juga: Kerugian Kasus Pinjol Ilegal Tahun Ini Sentuh 217 Miliar Rupiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *