Penanggulangan Pascabanjir Torue Masuk Masa Transisi

waktu baca 2 menit
Salah satu rumah warga terdampak banjir. Penanggulangan Pascabanjir Torue Masuk Masa Transisi

Berita Banjir Bandang Desa Torue, sulawesitoday – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah melanjutkan percepatan Penanggulangan Pascabanjir Torue masuk masa transisi setelah status tanggap darurat berakhir pada 11 September 2022.

Sekretaris BPBD Parigi Moutong, Moh Rivai menjelaskan, Penanggulangan Pascabanjir Torue di masa transisi ini merupakan usaha pemulihan.

“Masa transisi itu dimulai pada Senin 12 September 2022,” jelas Rivai pada Selasa 13 September 2022.

Ia menjelaskan, di masa transisi kegiatan pemulihan berupa pembangunan hunian sementara (huntara) bagi korban terdampak parah, perbaikan sejumlah infrastruktur, dan penyelesaian kegiatan normalisasi sungai.

Khusus pembangunan huntara, Pemkab Parigi Moutong hingga kini terus berkomunikasi dengan BPBD Sulawesi Tengah sebagai pihak penyedia guna percepatan kegiatan fisik.

BACA JUGA: Gubernur Papua Lukas Enembe Tersangka Gratifikasi

“Informasi kami terima saat ini BPBD Sulteng sedang menyiapkan material huntara, pekan lalu juga mereka telah melakukan pengukuran lahan,” ujar Rivai.

Meski tanggap darurat sudah selesai, katanya, Pemkab Parigi Moutong melalui BPBD setempat tetap menyalurkan bantuan logistik kepada korban banjir, khususnya warga yang kehilangan rumah dan rusak berat.

Sehingga posko logistik milik BPBD Parigi Moutong tetap disiagakan di Desa Torue.

Hal itu untuk mempermudah proses penyaluran bantuan kepada korban banjir Torue.

Posko logistik juga digunakan sebagai posko pemantauan di lapangan.

Termausk proses normalisasi sungai Desa Torue yang dilakukan oleh Balai Wilayah Sungai Sulawesi III (BWSS III) serta BPBD.

BACA JUGA: Gubernur Papua Lukas Enembe Tersangka Gratifikasi

Khusus sungai Torue di tangani BWSS III dengan membuat tanggul pengaman secara permanen mulai dari bagian pertengahan sungai hingga hilir,” tutur Rivai.

Proses normal sungai, BWSS III meminta penambahan waktu pekerjaan hingga dua bulan ke depan, yang mana struktur tanggul dibangun tiga lapis dan dipastikan kokoh karena terlapisi material pasir, batu gajah dan geosintetik.

“Sebelumnya huntara direncanakan akan dibangun sebanyak 40 unit, namun ada ketambahan 12 rumah rusak ringan, karena ke-12 Kepala Keluarga (KK) tersebu tinggal di garis sempadan sungai dan pantai. Sehingga total hunian sementara dibangun sekitar 52 unit,” demikian Rivai. (**)

Leave a Reply

Your email address will not be published.