Sulawesitoday

portal berita terkini di sulawesi tengah, poso, palu, parigi moutong dan berita terbaru lainnya

Akademisi Sebut Pentingnya Pembangunan Berbasis Bencana di Kota Palu

waktu baca 3 menit
Akademisi Sebut Pentingnya Pembangunan Berbasis Bencana di Kota Palu
Akademisi Sebut Pentingnya Pembangunan Berbasis Bencana di Kota Palu
Akademisi Sebut Pentingnya Pembangunan Berbasis Bencana di Kota Palu

Pembangunan berbasis bencana Kota Palu, berita sulawesi tengah – Akademisi dari Universitas Tadulako, Ir Abdullah MT menyampaikan mitigasi fisik dan kultural penting dalam pembangunan berbasis bencana di Kota Palu, Sulawesi Tengah.

“Mitigasi fisik, benahi tempat tinggal, hunian harus tahan gempa. Infrastruktur fisik atau infrastruktur sosial harus dibuat tahan gempa, memakai SNI 172,” kata Abdullah, di Kota Palu, Kamis 26 Mei 2022.

Mitigasi non-fisik atau mitigasi kultural pembangunan berbasis bencana, yakni memberi pengetahuan ke warga mengenai pertanda akan hadirnya bencana.

“Ada yang berbentuk pengalaman, ada juga yang berdasar info lewat literatur,” katanya.

Katanya, bila mitigasi pembangunan berbasis bencana sudah dilaksanakan, tetapi resiko masih tetap ada karena itu perlu dilaksanakan kesiagaan. Salah satunya memetakkan daerah riskan bencana dan memasangkan rambu-rambu atau pertanda.

“Penentuan daerah zone merah, lajur penyelamatan, titik kumpul sementara dan titik kumpul akhir,” katanya.

Lajur penyelamatan dan titik kumpul, harus berdasar persetujuan warga, salah satunya maksudnya supaya warga ketahui titik kumpul sementara dan titik kumpul akhir.

Akademisi Sebut Pentingnya Pembangunan Berbasis Bencana di Kota Palu

Selanjutnya, dia menjelaskan, hal tersebut harus diperlengkapi dengan mekanisme peringatan awal yang dibuat berbasis tehnologi atau tradisionil.

“Pentongan, tiang listrik, toa, atau suatu hal yang disetujui oleh komune warga tersebut,” katanya.

Dia memperjelas, Palu yang rawan bencana alam gempa bumi, karena itu pembangunan fisiknya memerhatikan pengurangan resiko bencana dan imbas bencana.

Pembangunan berbasis bencana Kota Palu.

Pemerintah kota Palu menjadi pembicara di komunitas Global Basis for Disaster Risk Reduction

Pemerintahan Kota Palu, Sulawesi tengah menjadi satu diantara pembicara pada satu komunitas dalam serangkaian Global Basis for Disaster Risk Reduction di Bali, mengangkat materi proses rekondisi pemulihan dan rekonstruksi pasacempa, tsunami dan likuefaksi.

“Sebagai wakil Wali Kota Palu, kami membagikan pengalaman ke delegasi yang datang saat hadapi keadaan genting sampai proses rekondisi pascabencana yang bersambung sampai sekarang ini,” kata Sekretaris Wilayah Kota Palu Irmayanti Petalolo lewat info tercatatnya diterima di Kota Palu.

Dia menyampaikan, bencana alam 28 September 2018 kejadian hebat dan tidak bisa dilalaikan, bahkan juga sering jadi perbincangan warga.

Khusus Kota Palu, tiga bencana alam terjang sekalian yaitu gempa, tsunami dan likuefaksi di saat bertepatan. Imbas likuefaksi melelehlantakkan dua Kelurahan di ibu kota Sulteng yaitu Kelurahan Petobo dan Balaroa.

Selesai kejadian alam menelan beberapa ribu korban jiwa, ucapnya, Pemerintah kota Palu menggamit komune, sukarelawan, Instansi Swadaya Warga (LSM) terhitung buka ruangan untuk instansi kemanusiaan instansi luar dan dalam negeri ikut menolong penuhi keperluan warga terimbas.

Penyukupan kebutuhan, bukan hanya meliputi keperluan logistik seperti tenda genting, makanan dan beberapa obat, tapi juga rekondisi psikologi dari trauma yang dirasakan warga di tempat.

Pembangunan berbasis bencana Kota Palu.

“Kami menghargai seluruh pihak yang turut serta dalam rekondisi bencana Kota Palu pada keadaan genting, dan sampai sekarang masih tetap ada beberapa LSM lakukan pengiringan pada korban bencana,” tutur Irmayanti.

Akademisi Sebut Pentingnya Pembangunan Berbasis Bencana di Kota Palu

Dia menjelaskan, di proses pemulihan dan rekonstruksi bukan hanya rekondisi pada bidang infrastruktur, tapi juga didalamnya menempel rekondisi psikososial, program kesehatan, mitigasi dan kontribusi modal usaha.

Lalu dari faktor gender, Pemerintah kota Palu masih tetap membuat kerja-sama dengan LSM dan ormas lokal menyikapi keperluan wanita dan anak-anak korban bencana dari faktor pengajaran dan pengokohan ketahanan ekonomi dengan arah bangun dari kemerosotan.

“Wanita dan anak salah satunya barisan rawan yang perlu perhatian pemerintahan, terhitung masyarakat lansia (lansia),” sebut Irmayanti.

Disebutkannya, perhatian pemerintahan dan organisasi wanita yang lain dalam memberi pengayoman melalui pendayagunaan ketrampilan dengan keinginan di depan mereka lebih berdikari penuhi tuntutan hidup setiap hari.

“Pemulihan dan rekonstruksi sekarang ini pun tidak lepas dari peranan Pemerintahan Pusat,” begitu Irmayanti. (**)

Selain berita pembangunan berbasis bencana Kota Palu, baca juga: Meningkat 76 Persen, Jumlah Kematian Akibat Bencana di 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published.