Pasca Crash di Aragon, Fabio Quartararo Ragu Hadapi GP Jepang

waktu baca 3 menit
Pasca Crash di Aragon, Fabio Quartararo Ragu Hadapi GP Jepang (Foto/Istimewa)

Berita Olahraga, sulawesitoday sports – Pasca crash di MotoGP Aragon, pemimpin klasemen Fabio Quartararo mulai ragu hadapi GP Jepang.

Kecelakaan di Sirkuit MotorLand Aragon membuat pembalap MotoGP tim pabrikan Monster Energy Yamaha itu kini hanya unggul 10 poin dari Francesco Bagnaia (Ducati Lenovo) di posisi kedua secara klasemen.

Bagnaia menggila sejak menjelang istirahat libur tengah musim. Dalam lima balapan dari jeda musim hingga awal babak kedua, Bagnaia secara konsisten naik podium, termasuk empat kemenangan beruntun: Belanda, Inggris, Austria. dan San Marino.

Rangkaian kemenangan Bagnaia baru saja dihentikan rekan setimnya di Ducati Desmosedici GP Enea Bastianini (Gresini Racing) di GP Aragon, Spanyol.

Menjelang GP Jepang yang melakukannya Bagnaia, yang berlangsung di Sirkuit Motegi akhir pekan ini 23 hingga 25 September 2022, menjadi salah satu rival berat Quartararo di balapan Kejuaraan Dunia MotoGP. Namun, lawan El Diablo bukan hanya itu.

Bayangan pasca crash di MotorLand Aragon pada Minggu 18 September 2022 pekan lalu sedikit banyak akan mempengaruhi konsentrasi dan psikologi pembalap Prancis itu.

Selain itu, tekanan untuk finis masih minim di lima podium balapan terakhir (dari Jepang) hanya dalam tujuh minggu.

Dalam kompetisi Motegi selanjutnya, banyak faktor yang akan mempengaruhi skor Quartararo. Tidak hanya Bagnaia, hanya 10 poin di belakang, tetapi juga Aleix Espargaró (Aprilia Racing), hanya 17 poin di belakang Quartararo, di tempat ketiga.

Di tangan Espargaro, Aprilia RS-GP menjadi salah satu yang paling motor kompetitif di MotoGP musim ini. Mampu mengimbangi laju Ducati Desmosedici GP dan meraih enam podium menjadi pemicu bagi Espargaro untuk menambah kemenangannya atas kesuksesan di Argentina.

Secara teknis, Quartararo kalah dari pembalap Ducati. Namun, El Diablo dan pembalap pabrikan lainnya masih dapat memanfaatkan kebijakan ragu-ragu Ducati untuk bekerja sama dengan pembalap pabrikan dari Borgo Panigale, Bologna, Italia.

Apa yang terjadi terakhir kali di MotorLand, ketika Bastianini tiba-tiba mengambil alih P1 Bagnaia di lap terakhir, menjadi bukti bahwa pemuda Italia itu juga berambisi untuk memperebutkan gelar juara dunia MotoGP.

Dihitung Tertinggal 48 poin dari Quartararo usai GP Aragon, Bastianini masih berpeluang mengangkat trofi MotoGP. Maklum, masih ada maksimal 125 poin yang bisa diperebutkan dalam lima balapan terakhir musim ini, termasuk Jepang.

Pernyataan bos Gresini Nadia Padovani tentang para pebalap hanya akan membantu Ducati ketika mereka kehabisan peluang, itu juga merupakan tanda bahwa tidak semua tim yang menggunakan motor Ducati segera menyamai kecepatan dari pemasok sepeda motor mereka.

Marc Marquez (Repsol Honda) tidak akan terlalu mengganggu Quartararo. Motegi adalah rumah Honda. Namun, pemegang delapan gelar juara dunia sepeda motor (125cc 2010, Moto2 2012 dan MotoGP 2013, 2014, 2016-2019) itu menegaskan prioritasnya saat ini adalah menempuh jarak sejauh mungkin dan merasa nyaman dengan nuansa Honda RC213V.

Baca: FGD Kemenkumham Sulawesi Tengah, Wujudkan Layanan Notaris Prima

Jangan meremehkan pembalap lain, sulit bagi mereka untuk mengejar posisi 4 besar. Termasuk pembalap Ducati lainnya.

Jack Miller (Ducati Lenovo), Johann Zarco-Jorge Martin (Prima Pramac Racing) dan Luca Marini-Marco Bezzeecchi (Mooney VR46 Racing), terlalu sering tidak konsisten.

Mungkin apa yang seharusnya di waspadai Fabio Quartararo adalah pembalap Red Bull KTM Factory Racing Brad Binder. saat di Aragon, pembalap Afrika Selatan itu mampu melaju di depan dan akhirnya finis P4 setelah start dari urutan kesepuluh di grid ke 10. (*/Ikh)

Baca: Johan Zarco Anggap Marquez Tampil Berlebihan di MotoGP Aragon

Leave a Reply

Your email address will not be published.