Sulawesitoday

portal berita terkini di sulawesi tengah, poso, palu, parigi moutong dan berita terbaru lainnya

15 Jenis Kekerasan Seksual Menurut Komnas Perempuan

waktu baca 8 menit
illustrasi kekerasan seksual, (Foto: milada vigerova/unsplash)

Jenis kekerasan seksual, sains tekno sulawesitoday – Tahukah kamu, ada beberapa ratus ribu kasus kekerasan seksual yang sudah disampaikan di tahun 2021?

Berdasarkan catatan tahunan (CATAHU) Komisi Nasional Anti Kekerasan pada Perempuan (Komnas Perempuan) 2022, sekitar 338.496 kasus kekerasan berbasiskan gender disampaikan sepanjang tahun 2021.

Komnas Perempuan mengatakan jika sekarang ini Indonesia sedang genting kekerasan seksual pada perempuan.

Pada periode tahun 2015-2020, terdaftar 11.975 kasus disampaikan beragam pengada service hampir di 34 propinsi, atau sekitaran 20% dari keseluruhan kasus kekerasan pada perempuan yang terjadi di ranah private.

Dalam waktu yang serupa, rerata 150 kasus per tahun disampaikan langsung ke Komnas Perempuan.

Komisioner Komnas Perempuan, Siti Aminah Tardi menjelaskan, kasus NWR sebagai salah satunya dari 4.500 kasus kekerasan pada perempuan yang dilaporkan ke Komnas Perempuan dalam masa Januari-Oktober 2021.

“Ini telah 2x lipat semakin banyak dibanding jumlah kasus yang disampaikan ke Komnas Perempuan pada 2020.

Kenaikan aduan kasus sudah kami perhatikan semenjak tahun 2020,” kata Ami dalam pertemuan jurnalis Komnas Perempuan, Senin 6 Desember 2021.

Dalam pada itu, masih berdasar laporan Komnas Perempuan, kekerasan dalam kekasihan ialah jenis kasus kekerasan di ruangan private atau individual yang ketiga paling banyak disampaikan.

Dalam peluang yang serupa, Ketua Komnas Perempuan Andy Yentiriyani menjelaskan, kasus bunuh diri dan kekerasan seksual yang terjadi pada NWR (23) yang terjadi pada Kamis, 2 Desember 2021 sebagai sirene jika Indonesia sedang genting kekerasan seksual.

“Cerita ironis NWR harus jadi pelajaran untuk kita. Kasus ini sebagai sirene keras pada keadaan genting kekerasan seksual di Indonesia yang memerlukan respon serius dari aparatur penegak hukum, pemerintahan, legislatif dan warga,” terangnya.

Apakah itu kekerasan seksual? Kekerasan seksual jadi lebih susah untuk disingkap dan diatasi dibandingkan kekerasan pada perempuan yang lain, karena kerap dihubungkan dengan ide moralitas warga.

Perempuan dipandang seperti lambang kesucian dan kehormatan, karenanya saat perempuan alami kekerasakan seksual, misalkan setubuhian malah dipandang seperti noda.

Korban kerap dituding sebagai pemicu berlangsungnya kekerasan seksual. Berikut yang membuat perempuan korban sering bungkam bila merasakannya.

Ada 15 jenis kekerasan seksual yang diketemukan Komnas Perempuan hasil dari pengawasannya sepanjang 15 tahun (1998-2013).

  1. Setubuhan

Setubuhian ialah gerakan berbentuk pemaksaan jalinan seksual dengan menggunakan penis ke vagina, anus atau mulut kotban.

Juga bisa mengggunakan jemari tangan atau beberapa benda yang lain. Gempuran dilaksanakan dengan kekerasan, teror kekerasan, penahanan, penekanan psikis, penyimpangan kekuasaan, atau mungkin dengan ambil peluang dari lingkungan yang penuh desakan.

Pencabulan ialah istilah lain dari setubuhian yang dikenali dalam mekanisme hukum Indonesia.

Istilah ini dipakai saat setubuhian dilaksanakan di luar pemaksaan penetratif penis ke vagina dan saat terjadi jalinan seksual ke orang yang belum sanggup memberi kesepakatan secara utuh, misalkan pada anak atau seorang di bawah 18 tahun.

  1. Gertakan seksual terhitung teror atau eksperimen setubuhian Gertakan seksual yakni perlakuan yang serang seksualitas untuk memunculkan perasaan takut atau kesengsaraan mental pada perempuan korban.

Gertakan seksual dapat dikatakan langsung atau tidak langsung memalui surat, sms, e-mail, dan sebagainya.

Teror atau eksperimen setubuhian sisi dari gertakan seksual.

  1. Penghinaan seksual

Penghinaan seksual sebagai perlakuan seksual melalui sentuhan fisik atau non-fisik dengan target organ seksual atau atau seksualitas korban.

Perlakuan itu termasuk memakai siulan, main mata, perkataan memiliki nuansa seksual, memperlihatkan materi pornografi dan kemauan seksual, colekan atau sentuhan pada bagian badan, pergerakan atau kode yang memiliki sifat seksual.

Hingga menyebabkan merasa tidak nyaman, tersinggung, berasa direndahkan martabatnya, dan kemungkinan sampai mengakibatkan permasalahan keselamatan dan kesehatan.

  1. Eksplorasi seksual

Eksplorasi seksual sebagai perlakuan penyimpangan kekuasaan yang berbeda atau penyimpangan keyakinan, untuk maksud kepuasan seksual, atau untuk mendapat keuntungan berbentuk uang, sosial, politik dan yang lain.

Praktek eksplorasi seksual yang sering dijumpai ialah memakai kemiskinan perempuan, hingga dia masuk ke prostitusi atau pornografi.

Praktek yang lain ialah perlakuan mengimingi perkawinan untuk mendapat service seksual dari perempuan, lalu ditelantarkan.

  1. Perdagangan perempuan

untuk maksud seksual Perdagangan perempuan dengan perlakuan mengambil, mengusung, memuat, mengirimi, mengalihkan, atau terima seorang dengan teror kekerasan, pemakaian kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyimpangan kekuasaan atau status rawan, penjeratan hutang, atau pemberian bayaran atau faedah pada korban langsung atau orang yang lain menguasainya, untuk maksud prostitusi atau eksplorasi seksual yang lain. Perdagangan perempuan bisa juga terjadi dalam negara atau antar-negara.

  1. Prostitusi paksakan

Prostitusi paksakan ialah keadaan di mana perempuan alami muslihat, teror atau kekerasan menjadi budak sex.

Kondisi ini bisa terjadi pada periode recruitment atau untuk membikin perempuan itu tidak memiliki daya untuk melepas dianya dari prostitusi, misalkan dengan penyekapan, penjeratan hutang, atau teror kekerasan.

Prostitusi paksakan mempunyai beberapa keserupaan, tetapi tidak selamanya sama dengan perbudakan seksual atau mungkin dengan perdagangan orang untuk maksud seksual.

  1. Perbudakan seksual Perbudakan seksual ialah keadaan di mana aktor berasa jadi “pemilik” atas badan korban hingga memiliki hak untuk lakukan apa saja, terhitung mendapat kepuasan seksual lewat pemerkosaan atau wujud lain kekerasan seksual.

Perbudakan ini meliputi keadaan di mana perempuan dewasa atau anak-anak dipaksakan menikah, layani rumah tangga atau wujud kerja paksakan yang lain, dan terkait seksual dengan penyekapnya.

Jenis kekerasan seksual

  1. Pemaksaaan perkawinan, terhitung pisah menggantung Pemaksaan perkawinan ditempatkan sebagai jenis kekerasan seksual karena pemaksaan jalinan seksual jadi sisi tidak dipisahkan dari perkawinan yang tidak diharapkan oleh perempuan itu.

Ada banyak praktek di mana perempuan terlilit perkawinan di luar kehendaknya sendiri. Pertama, saat perempuan berasa tidak mempunyai alternatif lain terkecuali ikuti kehendak orangtuanya supaya ia menikah, sekalinya tidak dengan orang yang ia harapkan atau bahkan juga sama orang yang tidak ia ketahui.

Keadaan ini sering disebutkan kawin paksakan. Ke-2 , praktek memaksakan korban setubuhian menikah dengan aktor.

Pernikahan itu dipandang kurangi noda karena setubuhian yang terjadi. Ke-3 , praktek pisah menggantung yakni saat perempuan dipaksakan untuk selalu ada dalam ikatan perkawinan walau sebenarnya dia ingin berpisah.

Tetapi, tuntutan cerainya ditampik atau mungkin tidak diolah dengan beragam argumen baik dari faksi suami atau kewenangan yang lain.

Keempat, praktek “Kawin Cinta Buta”, yakni memaksa perempuan untuk menikah sama orang lain untuk satu malam dengan arah berbaikan dengan bekas suaminya sesudah cerai tiga atau pisah untuk ke-3 kalinya dalam hukum Islam.

Praktek ini dilarang oleh tuntunan agama, tetapi tetap diketemukan di beberapa wilayah.

  1. Pemaksaan kehamilan Pemaksaan kehamilan ialah keadaan saat perempuan dipaksakan, dengan kekerasan atau teror kekerasan, untuk meneruskan kehamilan yang tidak ia kehendaki.

Keadaan ini misalkan dirasakan oleh perempuan korban setubuhian yang tidak diberi alternatif lain terkecuali meneruskan kehamilannya.

, saat suami merintangi istrinya untuk memakai kontrasepsi hingga perempuan itu tidak bisa atur jarak kehamilannya.

Pemaksaan kehamilan ini berlainan dimensi dengan kehamilan paksakan dalam kerangka kejahatan pada kemanusiaan dalam Statuta Roma, yakni keadaan limitasi secara menantang hukum pada seorang perempuan untuk hamil secara paksakan, bermaksud untuk membikin formasi etnis dari satu komunitas atau untuk lakukan pelanggaran hukum internasional yang lain.

  1. Pemaksaan aborsi Pemaksaan aborsi ialah perlakuan pengguguran kandungan yang sudah dilakukan karena ada penekanan, teror, atau desakan dari faksi lain.
  2. Pemaksaan kontrasepsi dan sterilisasi Disebutkan pemaksaan saat penempatan alat kontrasepsi dan, atau penerapan sterilisasi tanpa kesepakatan utuh dari perempuan karena dia tidak mendapatkan info yang komplet atau dipandang tidak mahir hukum agar bisa memberi kesepakatan.

Pada periode Orde Baru, perlakuan ini dilaksanakan untuk tekan pergerakan perkembangan warga, sebagai salah satunya tanda kesuksesan pembangunan.

Saat ini, kasus pemaksaan pemaksaan kontrasepsi atau sterilisasi umum terjadi pada perempuan dengan HIV/AIDS dengan argumen menahan kelahiran anak dengan HIV/AIDS.

Pemaksaan ini dirasakan perempuan penyandang disabilitas, intinya tuna grahita, yang dipandang tidak sanggup membuat keputusan untuk dirinya, rawan setubuhian, dan karena itu kurangi beban keluarga untuk mengurusi kehamilannya.

Jenis kekerasan seksual

  1. Penganiayaan seksual Penganiayaan seksual ialah perlakuan khusus serang organ dan seksualitas perempuan, yang sudah dilakukan dengan menyengaja, hingga memunculkan merasa sakit atau kesengsaraan luar biasa, baik jasmani, rohani atau seksual.

Ini dilaksanakan untuk mendapat pernyataan atau info darinya, atau dari orang ke-3 , atau untuk menghukumnya atas satu tindakan yang sudah atau diperhitungkan sudah dilaksanakan olehnya atau oleh orang ke-3 .

Penganiayaan seksual bisa juga dilaksanakan untuk memberikan ancaman atau memaksakan, atau orang ke-3 , berdasar pada diskriminasi atas argumen apa saja.

Terhitung wujud ini jika merasa sakit dan kesengsaraan itu diakibatkan oleh provokasi, kesepakatan, atau setahu petinggi khalayak atau aparatur penegak hukum.

  1. Penghukuman tidak manusiawi dan memiliki nuansa seksual Penghukuman tidak manusiawi dan memiliki nuansa seksual yang ditujukan ialah langkah memberi hukuman yang mengakibatkan kesengsaraan, kesakitan, ketakutan, atau rasa malu yang hebat yang tidak dapat tidak terhitung dalam penganiayaan.

Ini terhitung hukuman pecut dan hukuman-hukuman yang membuat malu atau untuk merendahkan martabat manusia, karena didakwa menyalahi etika-etika kesusilaan.

  1. Praktek adat memiliki nuansa seksual yang mencelakakan atau mendiskriminasi perempuan Untuk jenis kekerasan seksual yang selanjutnya ialah praktek adat memiliki nuansa seksual yang mencelakakan atau mendiskriminasi perempuan.

Rutinitas warga, terkadang didukung dengan argumen agama atau budaya, yang memiliki nuansa seksual dan bisa memunculkan cedera secara fisik, psikis atau seksual pada perempuan.

Rutinitas ini dapat dilaksanakan untuk mengatur seksualitas perempuan dalam sudut pandang yang merendahkan perempuan. Sunat perempuan adalah misalnya.

  1. Kontrol seksual, terhitung melalui ketentuan diskriminatif berargumen moralitas dan agama Jenis kekerasan seksual yang paling akhir ialah kontrol seksual.

Langkah berpikir dalam warga yang tempatkan perempuan sebagai lambang moralitas komune, membandingkan di antara “perempuan baik” dan perempuan “nakal”, dan mengadili perempuan sebagai penyebab kekerasan seksual jadi dasar usaha mengatur seksual (dan seksualitas) perempuan.

Kontrol seksual meliputi beragam tindak kekerasan atau teror kekerasan langsung atau tidak langsung, untuk memberikan ancaman atau memaksa perempuan untuk menginternalisasi simbolsimbol tertentu yang dipandang patut untuk “perempuan baik-baik’.

Pemaksaan baju menjadi satu diantara wujud kontrol seksual yang tersering dijumpai.

Kontrol seksual dilaksanakan melalui ketentuan yang berisi kewajiban baju, jam malam, larangan ada di tempat tertentu pada pukul tertentu, larangan ada di satu tempat dengan lawan jenis tanpa ikatan famili atau perkawinan, dan ketentuan mengenai pornografi yang menerpaskan diri lebih dari masalah moralitas dibanding kekerasan seksual.

Ketentuan yang diskriminatif ini berada di tingkat nasional atau wilayah dan dikokohkan dengan argumen moralitas dan agama.

Pelanggar ketentuan ini dikenakan hukuman berbentuk peringatan, denda, penjara atau hukuman tubuh yang lain. (rhmn)

Selain artikel Jenis kekerasan seksual, simak juga: Berikut Lima Contoh Negara Maju di Eropa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *