Sulawesitoday

portal berita terkini di sulawesi tengah, poso, palu, parigi moutong dan berita terbaru lainnya

Dua Pembalap Tua Buktikan Usia Bukan Penghalang

waktu baca 5 menit
Dua Pembalap Tua Buktikan Usia Bukan Penghalang

Dua Pembalap Tua, sulawesitoday sports – Walau tidak muda lagi, Aleix Espargaro dan Alvaro Bautista menunjukkan mampu berkompetisi masing-masing di MotoGP dan World Superbike (WSBK) musim ini.

Musim balap tahun ini, tidak ada yang menduga jika pembalap tua seperti Espargaro dan Bautista, sanggup melejit ke status atas klasemen pembalap di dua kejuaraan dunia berlainan.

Espargaro tempati P2 klasemen sementara Kejuaraan Dunia MotoGP bersama team pabrikan Aprilia Racing, dari 11 balapan yang telah diadakan. Sementara, Bautista malah lebih luar biasa, pimpin klasemen World Superbike (WSBK) 2022 sehabis empat perputaran atau 12 race.

Dua Pembalap Tua Ini Buktikan Usia Bukan Penghalang
Dua Pembalap Tua Buktikan Usia Bukan Penghalang

Sedikit yang mengetahui jika ke-2 rider asal Spanyol itu sempat satu team saat muda, saat turun di Kejuaraan Dunia Balap Motor kelas 125cc (saat ini Moto3). Espargaro – walau lakukan kiprah pada 2004 – baru jalani musim penuh pertama kalinya di kelas 125cc pada 2005. Waktu itu, dia diambil Tim Seedorf RC3 punya bekas pemain sepak bola Clarence Seedorf.

Pada 2005 itu, Bautista siap jalani musim ke-3 di kelas 125cc bersama tim Seedorf. Saat itu, Espargaro barus berumur 16 tahun dan Bautista 21 tahun. Cuma satu musim (2005), ke-2 nya bersama pada sebuah tim. Kemudian, Espargaro dan Bautista jalani liku-liku profesi yang lain.

Bautista sukses merampas titel juara dunia kelas 125cc pada 2006. 2 tahun berlalu, Bautista jadi runner-up kelas 250cc (saat ini Moto2). Tetapi, di MotoGP, entahlah kenapa profesi Bautista tidak berkembang. Dia cuma 3x naik tribun sepanjang 9 tahun.

Dia juga pilih berpindah ke WSBK pada 2019 bersama Ducati dan nyaris jadi juara dunia walau pada akhirnya harus senang finish runner-up. Sesudah 2 tahun tidak berkembang bersama Honda, Bautista kembali lagi ke team pabrikasi Ducati dan sekarang pimpin klassemen WSBK.

Selain berita Dua Pembalap Tua Ini Buktikan Usia Bukan Penghalang: Turunnya Viewers MotoGP Tak Membuat Pembalap Risau

Perjalanan profesi Aleix Espargaro lebih unik kembali. Turun semenjak 2005, dia harus menanti sampai 17 tahun untuk merampas kemenangan pertama kalinya di Kejuaraan Dunia Balap Motor.

Satu finish tribun masing-masing di kelas Moto2 dan MotoGP jadi catatan terbaik sampai musim 2021 kemarin. Baru di tahun 2022, Espargaro sukses merampas kemenangan pertama kalinya di Kejuaraan Dunia Balap Motor saat memenangkan MotoGP Argentina, awalnya April kemarin.

Saat mayoritas pembalap berpikiran untuk menggantung helm atau minimum tak lagi sanggup berkompetisi, Espargaro dan Bautista malah kebalikannya. Perform ke-2 nya yang mengilap di umur tua kemungkinan dapat dimisalkan anggur. Espargaro akan genap 33 tahun dalam sekian hari di depan (30 Juli). Bautista akan tiup 38 buah lilin pada 21 November kedepan.

Di olahraga motor balap yang membutuhkan fisik benar-benar kuat, yang umum dilaksanakan beberapa pembalap berumur 20-an tahun, apa yang sukses dilaksanakan Espargaro dan Bautista bukan hanya pengecualian tapi dapat menjadi pelajaran bernilai.

Apa yang telah diperlihatkan Marc Marquez atau Valentino Rossi, dapat disebut fenomena yang tidak dapat dilaksanakan semua pembalap. Selainnya talenta alami, cuaca kompetisi dan peta kemampuan pembalap jadi hal pemasti kedahsyatan ke-2 nya.

Dalam tahun-tahun ini, peristiwa rider belia langsung muncul, memberi warna Kejuaraan Dunia Balap Motor. Pedro Acosta yang sekarang turun di Moto2, jadi contoh paling fakta.

Pemuda Spanyol itu langsung merampas titel juara dunia Moto3 pada musim pertamanya, 2021 kemarin. Saat merampas gelar itu, Acosta baru berumur 17 tahun dan 166 hari atau sehari lebih tua dari rekor juara dunia paling muda kelas 125cc 1990, Loris Capirossi.

Tidak boleh lupakan David Munoz, 16 tahun. Walau baru 4x turun di Moto3, telah ada team Moto2 yang meliriknya karena sanggup naik tribune ke-2 pada GP Catalunya. Umur muda menjadi modal sekalian aspek terpenting seorang rider diambil oleh team. Tapi, khalayak pasti belum lupa mengenai cerita Can Oncu, yang memenangkan balapan pertama kalinya di Moto3 di Valencia pada 2018.

Rider asal Turki itu lalu di turunkan penuh di Moto3 pada 2019 oleh team yang paling eksper meningkatkan rider muda, Ajo Motorsport. Kenyataannya, Oncu luluh lantak sesudah cuma mengumpulkan 3 point dari 16 balapan. Dia juga ditendang dari Tim Ajo Motorsport dan sekarang turun di World Supersport, seri simpatisan WSBK.

Bila disaksikan kembali ke belakang, beberapa legenda MotoGP yang merampas titel juara dunia lebih dari sekali, masih tetap perlu waktu sesuaikan untuk dapat betul-betul masak. Marc Marquez perlu 2 tahun sesudah kiprah, untuk berebutan gelar jawara pertama kalinya pada 2010 (125cc).

Semenjak turun penuh di Kejuaraan Dunia Balap Motor pada 2002 (kelas 125cc), Casey Stoner perlu lima musim untuk merampas titel juara dunia kelas MotoGP pada 2007 bersama Ducati.

Lalu, bagaimana dengan Fabio Quartararo? Sesudah 2 tahun luluh lantak di Moto3, dia lalu cuma sanggup sekali meraih kemenangan di kelas Moto2. Promo ke MotoGP pada 2019, El Diablo juara pada musim 2021 dalam umur 22 tahun.

Dua Pembalap Tua Ini Buktikan Usia Bukan Penghalang
Dua Pembalap Tua Buktikan Usia Bukan Penghalang

Bila menyaksikan peristiwa di atas, apa yang telah dilaksanakan Aleix Espargaro dan Alvaro Bautista, memang pengecualian dan pantas memperoleh perhatian. Mereka telah sekian tahun turun dan banyak memiliki pengalaman, tetapi baru sanggup berkilau tahun ini.

Performa Aleix Espargaro dan Alvaro Bautista selama ini jadi bukti jika kesabaran dan ketekunan jika dipadankan dengan pengalaman dan kematangan, menjadi factor yang paling berarti untuk kompetisi sekuat MotoGP dan WSBK. (fkr)

Selain berita Dua Pembalap Tua Ini Buktikan Usia Bukan Penghalang: Andrea Dovizioso Pensiun? Ini Tanggapannya

Leave a Reply

Your email address will not be published.